(27 desember 2008)
- AMD dan ATI mengatakan bahwa NVIDIA PhysX akan mati
Saat ini untuk melakukan kalkulasi physic pada game ada 2 cara, yaitu menggunakan prosesor
(CPU) dan videocard (GPU).
Mayoritas game saat ini mengimplementasikan kalkulasi
physic menggunakan CPU. Nyaris semua game terkenal mengimplementasikan kalkulasi physic
menggunakan prosesor.
Oleh karena itu standard Havok (CPU physic) lebih banyak
diadopsi oleh developer game ketimbang PhysX (GPU physic).
Berikut ini adalah daftar game yang mengadopsi CPU Physic dan GPU
Physic (NVIDIA PhysX)
Dari daftar game disamping terlihat bahwa ambisi NVIDIA untuk
meyakinkan dunia bahwa physic pantas dikerjakan oleh GPU masih jauh. Sebab tak ada satupun
game best seller yang mengimplementasikan NVIDIA PhysX.
Cryostasis dan Mirror Edge yang digembar-gemborkan itu
juga masih belum dirilis. Sementara upcoming game yang lebih ditunggu-tunggu seperti Alan
Wake dan Saints Row 2 justru menggunakan Havok (CPU physic).
Grand
Theft Auto 4 yang digandrungi dan baru saja dirilis di PC juga mengimplementasikan CPU
physic dan bahkan membutuhkan
prosesor quad-core agar lancar.
Lebih populernya CPU physic ketimbang GPU physic tentu
tidak mengherankan karena CPU Physic didukung oleh Intel dan AMD yang notabene adalah
produsen prosesor yang tak mau penjualan prosesornya menurun akibat kalkulasi physic bisa
dilakukan oleh videocard dan tak membutuhkan prosesor powerful.
Banyak yang menduga bahwa miskinnya game yang menggunakan
GPU physic diakibatkan karena semua console game juga mengimplementasikan CPU physic,
sehingga akan lebih mudah bagi developer game yang ingin memporting game dari console ke
PC bila kalkulasi physicnya masih sama-sama mengandalkan CPU.
Kalkulasi physic menggunakan GPU mengharuskan developer
untuk bekerja keras 2X ketika memporting dari console ke PC, dan sebagai kompensasinya
harus ada yang mau membayar untuk kerja extra tersebut (NVIDIA harus mensponsori kalau mau
PhysX nya dimplementasikan). Dan itupun bukan jaminan bahwa game developer mau
mengimplementasikan NVIDIA PhysX mengingat itu merupkan standard tertutup (proprietary)
yang hanya bisa dijalankan pada videocard NVIDIA saja.
Developer game yang tidak mau kehilangan pangsa pasar
gamer yang tidak memliki videocard NVIDIA akan cenderung memilih untuk mengaopsi standard
CPU physic, atau standard GPU physic yang terbuka (DirectX 11 dan OpenCL).
Oleh karena itu persaingan standard physic nantinya adalah
NVIDIA vs. Intel+AMD+ATI+Microsoft+Khronos (alias 1 lawan 5).
NVIDIA ingin kedepannya kalkulasi physic menggunakan GPU
sehingga tidak dibutuhkan prosesor yang terlalu powerful untuk game dan mereka juga ingin
standard PhysX populer sehingga gamer mau tak mau harus membeli videocard NVIDIA untuk
dapat menikmatinya.
Sementara Intel dan AMD menginginkan kalkulasi physic
dikerjakan prosesor agar prosesor multi-core mereka tetap laku.
ATI sependapat dengan AMD yang merupakan induk
perusahaannya yang produsen prosesor, sehingga mereka terkesan lebih mendukung standard
CPU Physic yaitu Havok yang merupakan standard physic milik Intel.
Sedangkan untuk standard GPU Physic, ATI mengatakan bahwa mereka
akan memilih standard GPU Physic yang umum yaitu menganut standard Microsoft (Direct X11)
dan Khronos (OpenCL).
Microsoft akan mempopulerkan GPU Physic dengan standard
DirectX 11, yang berarti semua videocard dan game yang kompatibel dengan DirectX 11 akan
mampu mengimplementasikan GPU Physic.
Sementara Khronos Group mempopulerkan standard OpenCL
physic yang dapat bekerja di OS untuk PC maupun Apple.
Sebenarnya NVIDIA pernah sempat mencoba merayu ATI untuk
ikut mengimplementasikan PhysX pada GPU ATI, namun ATI menolaknya karena ATI merasa lebih
aman jika mendukung Intel (Havok) & Microsoft (DirectX 11).
Jadi tinggal NVIDIA sendirian yang berjuang dengan
standard PhysX nya sendiri.
Mampukah NVIDIA memperthankan PhysX dalam kondisi dikeroyok seperti ini? Kita lihat
saja apakah sebuah perusahaan mampu melawan 5 pemain besar....
Melihat kondisi pertarungan 1 lawan 5 tersebut, ATI
mengatakan bahwa kedepannya NVIDIA PhysX akan mati. Godfrey Cheng yang merupakan
Technical Marketing Director ATI mengatakan bahwa ATI tidak akan memiliki rencana untuk
mengimplementasikan standard NVIDIA PhysX, karena menurut mereka tidak akan ada peluang
hidup bagi standard tertutup (proprietary) seperti NVIDIA PhysX.
Apalagi ATI juga telah memutuskan untuk mengimplementasikan standard OpenCL dan
DirectX11, sehingga standard proprietary seperti itu akan mati (karena NVIDIA kini hanya
seorang diri memperjuangkan standardnya sendiri).
Prediksi Geoffrey Cheng ini bisa dimaklumi jika melihat
sejarah matinya standard tertutup seperti Glide (3Dfx) dan AGEIA PhysX.
Glide dulu mati karena para game developer lebih memilih standard terbuka
(DirectX), dan AGEIA PhysX dulu juga mati karena game developer lebih memilih standard
Havok physic yang lebih populer (AGEIA PhysX yang mati kemudian dibeli oleh NVIDIA).
Kini NVIDIA mencoba membangkitkan lagi standard AGEIA
PhysX yang dulu mati, yang bisa jadi berujung pada terulangnya sejarah lama.
Satu-satunya cara bagi NVIDIA untuk memperjuangkan
standard proprietary miliknya adalah dengan cara membayar game developer agar mau
menggunakan standard NVIDIA PhysX. Cara tersebut sudah terbukti cukup berhasil untuk
membuat game developer kecil mau membuat game yang menggunakan NVIDIA PhysX. Namun game
yang dihasilkan oleh game developer kecil tersebut hanyalah game kacangan yang tak pernah
menjadi best seller (misal: PT Boat, Warmonger, Metal Knight Zero), yang bahkan judulnya
pun cukup asing di telinga para gamer.
Baru-baru ini dua developer game ternama yaitu EA dan 2K telah
berhasil dirayu oleh NVIDIA untuk mengimplementasikan PhysX. Hal ini tidak mengherankan
mengingat EA akhr-akhir ini dilanda krisi finansial karena banyaknya judul game mereka
yang jeblok penjualannya,
sehingga kucuran dana sponsorship dari NVIDIA tentu sangat berarti bagi mereka.
Namun menurut Godfrey Cheng, kesuksesan sebuah standard
physic bukan ditentukan dari kucuran dana kepada developer game, tapi dari teknologi yang
diusung oleh standard physic itu sendiri.
Sogokan duit hanya berhasil pada developer game kecil atau
yang sedang dilanda krisis finasial seperti EA, namun developer game yang memikirkan
kesuksesan penjualan game akan lebih memilih standard physic yang terbuka dan teknolognya
terbaik.
Menurut ATI dan AMD, standard CPU physic Havok milik intel
adalah yang terbaik, dan ATI bersama AMD dan Intel bekerja sama untuk semakin meningkatkan
kemampuan standard physic Havok tersebut. Sebagai standard physic terbuka, Havok
dikembangkan bersama-sama oleh para pemain besar.
|
| Daftar
Game Top Title |
Menggunakan CPU Physic
(Havok, dll) |
Menggunakan GPU Physic
(NVIDIA PhysX) |
| Alan
Wake (Havok) |
Unreal
Tournament 3 |
| Alone
in the Dark (Havok) |
Cryostasis |
| Assassins
Creed (Havok) |
Mirrors
Edge |
| Bioshock
(Havok) |
|
| Brother
in Arms (PhysX) |
|
| Call
of Duty 5: World at War |
|
| Company
of Heroes |
|
| Crysis
Warhead (Crytek engine) |
|
| Dead
Space |
|
| Diablo
3 (Havok) |
|
| DiRT
(Neon engine) |
|
| Fallout
3 (Havok) |
|
| Far
Cry 2 (Dunia engine) |
|
| Flat
Out UC (Havok) |
|
| GTA
4 (Euphoria engine) |
|
| Kane&Lynch
Dead Man (Havok) |
|
| Left4Dead
(Source engine) |
|
| Lost
Planet (Havok) |
|
| Racedriver
GRID (Ego engine) |
|
| Ride
to Hell (Havok) |
|
| Saints
Row 2 (Havok) |
|
| Silent
Hill Homecoming |
|
| Spore
(Havok) |
|
| Starcraft
II (Havok) |
|
| Stranglehold
(Havok) |
|
| Test
Drive Unlimited (Havok) |
|
| Tomb
Raider Underworld |
|
| Wheelman
(Havok) |
|
|