| (15 november 2008) - ATI akhirnya merilis ATI Stream GPU Computing yang mampu kalahkan NVIDIA CUDA Selama ini NVIDIA menggembar-gemborkan CUDA yang tak lain adalah GPU Acceleration yang dapat menggunakan GPU untuk melakukan kalkulasi umum seperti halnya prosesor (CPU). Dengan kalkulasi menggunakan videocard (GPU), maka proses video encoding, desktop publishing, ekripsi, dan berbagai pekerjaan lainnya dapat dilakukan jauh lebih cepat ketimbang menggunakan prosesor (CPU). Selama ini ATI terkesan diam saja, dan membiarkan NVIDIA mempropagandakan kemampuan GPU computing pada dunia. ATI terkesan diam & memilih menunggu sambil menyaksikan NVIDIA mengeluarkan biaya cukup besar untuk memperkenalkan GPU computing kepada masyarakat. Dan kini setelah dunia mulai mengenal GPU computing yang diperkenalkan oleh NVIDIA dengan susah payah, tiba saatnya untuk ATI mengikuti jejak yang sama dengan memperkenalkan ATI Stream, yang tak lain juga merupakan GPU Computing seperti halnya NVIDIA CUDA. Pada bulan Desember 2008 ini, ATI akan merilis driver Catalyst 8.12 yang akan mengaktifkan ATI Stream alias kemampuan GPU Computing pada videocard Radeon seri 4000. Fitur GPU acceleration ini nantinya dapat langsung dicoba pada software video encoding ATI Avivo Video Converter. ATI juga telah bekerja sama dengan Adobe, Microsoft, Cyberlinik, ArcSoft, dan beberapa developer software lainnya. Sehingga dapat dipastrikan bahwa software Adobe (Photoshop CS4, Acrobat, Flash 10, After Effect) dan software Microsoft (Windows Vista, MS Expression Encoder, MS PowerPoint 2007, MS Silverlight) akan mendukung ATI Stream. Software video editing Cyberlink Power Director 7 dan Arcsoft TotalMedia Theatre juga akan menggunakan ATI Stream. ATI adalah member dari standard OpenCL, yaitu sebuah standard terbuka untuk pemrograman GPU computing. Sedangkan NVIDIA mengandalkan standard compiler ciptaan mereka sendiri yaitu CUDA (yang hanya berfungsi dengan videocard NVIDIA saja). ATI memilih jalur aman dengan menganut standard OpenCL dan DirectX 11 milik Microsoft. Oleh karena itulah mengapa software Microsoft memanfaatkan ATI Stream (GPU acceleration ATI) dan bukannya NVIDIA CUDA. Disamping kanan ini dapat anda lihat bocoran slide presentasi resmi dari ATI.... Tapi yang paling mengejutkan adalah kinerja GPU acceleration videocard ATI Radeon seri 4800 ternyata mampu mengalahkan videocard tertinggi NVIDIA yaitiu Geforce GTX280. Besar kemungkinan ini disebabkan karena ATI mampu mengoptimalkan 800SP yang ada pada GPU mereka tersebut. Pada pengujian resmi yang dilakukan oleh ATI, terlihat bahwa Radeon 4850 ($200) dengan software video encoding ATI Avivo mampu melakukan proses video encoding 1.5X lebih cepat ketimbang Geforce GTX280 ($500) yang menggunakan software video encoding NVIDIA Badaboom. Radeon HD4850 mampu menyelesaikan proseso encoding video berduarsi 90 menit dalam waktu cuma 23 menit, sedangkan Geforce 9800GTX membutuhan 38 menit. Kedua videocard ini mampu melakukan proses encoding video jauh lebih cepat ketimbang bila menggunakan porosesor Intel Core2 Extreme QX9650 (3Ghz) yang akan memakan waktu hingga 4 jam 34 menit. Kekalahan Geforce 9800GTX oleh Radeon HD4850 ini tentu sebuah tamparan memalukan bagi NVIDIA karena videocard termahal mereka ternyata mampu dikalahkan oleh videocard kelas menengah ATI. Selain itu NVIDIA Badaboom juga merupakan software video encoding yang dijual seharga $30, sementara ATI Avivo adalah software yang dibagikan gratis oleh ATI. Dengan Radeon HD4870 ($300) kinerja video encoding bahkan mampu digenjot lebih tinggi lagi yaitu sebesar 2.5X lebih gegas ketimbang Geforce GTX280 yang harganya masih jauh lebih mahal. Radeon HD4870 mampu menuntaskan proses video encoding 1080 ke 720p dalam waktu cuma 48 detik, sementara Geforce GTX280 membutuhkan waktu nyaris 2 menit. Dulu proses video encoding umumnya mengandalkan pada prosesor (CPU), sehingga diperlukan prosesor high-end bila ingin menuntaskan proses video encoding lebih cepat. Namun seiring populernya GPU computing, maka kian kecil alasan bagi kalangan video editing untuk membeli prosesor high-end untuk melakukan tugas semacam itu. Terutama karena prosesor tercepat yang ada di muka bumi sekalipun tak akan pernah mampu mengalahkan kinerja GPU dalam hal video encoding, dan komputasi data parallel lainnya. Oleh karena itu sangatlah lucu jika prosesor high-end seperti Core2 Quad, Phenom X4, dan Core i7 (Nehalem) dipromosikan dengan kemampuan video encoding nya yang hebat, karena sehebat-hebatnya prosesor tak akan mampu mengalahkan GPU videocard dalam hal seperti itu. Berbagai software video editing & desktop publishing yang kini memanfaatkan GPU computing juga akan membuat prosesor (CPU) tak akan pernah mampu mengalahkan videocard (GPU). Dalam pengujian yang dilakukan ATI terlihat bahwa kinerja video encoding menggunakan Radeon HD4850 mampu 12X lebih kencang ketimbang prosesor intel Core2 Extreme QX9650 3GHz. NVIDIA sebelumnya juga pernah menunjukkan perbandingan benchmark semacam itu, yang mengklaim bahwa video encoding menggunakan videocard NVIDIA dan software TMPGEnc mampu 4.5X lebih cepat ketimbang menggunakan prosesor Intel. Prosesor intel memang tak terkalahkan, namun seiring waktu yang mampu mengalahkan CPU intel secara telak adalah GPU. Sialnya, intel tak berprestasi di GPU karena para insinyur GPU terbaik rata-rata sudah dipeliharan di kandang ATI dan NVIDIA. Beberapa waktu yang lalu NVIDA masih sendirian dalam dunia GPU computing sehingga bebas tertawa-tawa menyaksikan keunggulan GPU atas CPU. Namun kini setelah ATI ikut serta, NVIDIA bakal kebat-kebit karena kinerja GPU computing pada videocard mereka ternyata mampu dikalahkan oleh GPU ATI kelas murah sekalipun. Jelas NVIDIA akan panik karena melihat kekalahan mereka dalam hal kinerja GPU computing, terutama setelah mereka menghabiskan dana cukup banyak untuk mempromosikan GPU computing. Tampaknya ATI memperoleh apa yang dalam strategi bisnis dinamakan "follower advantage". Dengan kata lain, biarkan orang lain yang bersusah payah membuka jalan, dan kemudian cukup meniru dengan lebih baik. Intel selama ini sukses karena mengadopsi strategi follower advantage, yaitu dengan mengadopsi teknologi yang diperkenalkan pertama kali duluan oleh AMD (64 bit, HyperTransport). Sementara AMD sendiri justru babak belur karena selalu berusaha menjadi pionir dalam teknologi prosesor. Sekalipun ATI merupakan anak perusahaan AMD, namun ATI tampaknya tak sebodoh induk perusahannya yang "sok menjadi pionir" dan memilih "strategi intel" dalam menyikapi persaingan dalam GPU computing.... |
![]()
|
Lihat semua arsip berita bulan November 2008
©2008 Budz Kay
Webdesign, All rights reserved
please contact webmaster for any
web related problem