| TEST
4: |
Splinter
Cell Chaos Theory |
Seri-seri Splinter Cell selalu menjadi game
best seller yang kemunculannya dinanti-nantikan oleh para penggemar game. Semenjak seri
perdananya, Splinter Cell terkenal sebagai game yang disponsori Nvidia. Sehingga berbagai
masalah akan timbul bila menggunakan videocard ATI.
Pada Splinter Cell seri ke 3 (Chaos Theory), Nvidia bersama developer game ini
sepakat untuk men-disable fitur Soft Shadow pada videocard ATI. Sehingga tampilan bayangan
pada videeocard ATI akan buruk (jaggies).
Nvidia tahu bahwa atmosfir game ini bernuansa gelap dan sangat mengandalkan
bayangan (shadow intensive), sehingga bila kualitas bayangan sengaja "dirusak"
tentu akan merusak kualitas tampilan game secara signifikan pada videcard ATI.
Selain itu game yang mensupport fitur HDR ini juga tidak memiliki opsi untuk
mengaktifkan Anti-Aliasing, sehingga keunggulan videocard ATI yang mampu mengaktifkan
FSAA+HDR secara bersamaan tidak dapat difungsikan pada game ini.
| Splinter
Cell Chaos Theory |

Bayangan Sam Fisher, tokoh utama Splinter Cell,
terlihat halus pada videocard Nvidia. Sedangkan pada videcard ATI bayangan terlihat kasar
dan bergerigi (jaggies). Ini akibat game ini dirancang untuk mendisable secara paksa fitur
Soft Shadow bila digunakan pada videocard ATI.

Bayangan kabel listrik terlihat halus pada
videocard Nvidia, sedangkan pada videocard ATI bayangan terlihat bergerigi

Bayangan jeruji besi terlihat halus pada videcard Nvidia,
sedangkan pada videcard ATI bayangan terlihat kasar dan bergerigi.

Game ini sangat menonjolkan efek bias bayangan.
Pada videocard Nvidia seluruh bayangan terlihat halus, berbeda dengan bayangan pada
videocard ATI yang terlihat kasar dan bergerigi akibat tidak aktifnya Soft Shadow.
|
| TEST
5: |
Splinter
Cell Double Agent |
Sekuel ke 4 dari serial game best seller
Splinter Cell yaitu Double Agent baru saja dirilis. Tetap dengan tradisi lamanya, Splinter
Cell adalah game yang pro Nvidia.
Nvidia tampaknya masih kurang puas dengan "mensabotase" fitur soft shadow
ATI pada Splinter Cell Chaos Theory.
Berbeda dengan seri sebelumnya, pada Splinter Double Agent pengguna videocard ATI
seri X1xxx dapat mengaktifkan FSAA+HDR berbarengan di game ini, maka untuk mengantisipasi
hal ini Nvidia bersama game developer Splinter Cell bersepakat melakukan sabotase yang
jauh lebih hebat lagi, yaitu dengan meniadakan bayangan pada karakter dan beberapa objek
bila menggunakan videocard ATI. Fitur soft shadow juga tetap tidak berfungsi pada
videocard ATI. Tidak hanya itu, implementasi bayangan pada beberapa objek juga mengalami
masalah (hilang-timbul).
Nvidia tahu benar bahwa Splinter Cell merupakan game yang sangat menonjolkan
atmosfir gelap yang sarat bayangan, sehingga bila bayangan pada videocard ATI
"disabotase" pasti akan membuat pengguna videcard ATI kecewa berat dan
memutuskan untuk beralih ke videocard Nvidia.
Pada game ini Nvidia juga ingin
melampiaskan dendam lamanya terhadap videocard ATI seri X800 yang beberapa tahun yang lalu
sempat membuat beberapa pengguna Geforce 6600 tergoda untuk beralih ke kubu ATI. Pada game
ini Nvidia sengaja memesan game developernya agar game ini tidak mampu berjalan dengan ATI
seri X300, X700, X800 karena ketiga videocard ATI tersebut belum mensupport Shader Model
3. Hal ini memang cukup aneh karena seharusnya engine game ini mampu dipaksa berjalan
dengan shader model 1.1 seperti seri Splinter Cell sebelumnya, tapi tampaknya kemapuan
tersebut dihilangkan karena pada game ini Nvidia ingin memberi pelajaran pada orang-orang
yang dulu berpindah dari Geforce 6600 ke ATI X800.
| Splinter
Cell Double Agent |

Pada videocard Nvidia, karakter dan berbagai
objek (tangga, gedung) memiliki bayangan. Sedangkan pada videocard ATI karakter maupun
objek tidak memiliki bayangan

Sama seperti Splinter Cell edisi
sebelumnya (Chaos Theory), fitur Soft Shadow pada Splinter Cell Double Agent juga tidak
berfungsi pada videocard ATI sehingga bayangan kabel listrik diatas terlihat sangat
bergerigi. Sedangkan pada videocard Nvidia bayangan kabel listrik terlihat halus.
Efek bayangan bergerigi pada videcard ATI terlihat jauh lebih parah di game ini
dibanding di Splinter Cell Chaos Theory.

Tidak adanya bayangan karakter pada videocard ATI membuat
nuansa kurang realisitis, berbeda dengan di videocard Nvidia dimana bayangan karakter
ditampilkan dengan baik.

Pada videocard ATI bayangan objek yang jatuh
pada pipa terlihat kasar (jaggies) dan seolah mengalami kesalahan, sedangkan pada
videocard Nvidia bayangan mampu jatuh secara baik.
|
Problem pada
videocard ATI tidak hanya pada hilangnya bayangan karakter dan beberapa objek serta tidak
berfungsinya Soft Shadow, namun bayangan pada objek kadang juga sering hilang-timbul
seiring pergerakan karakter. Sedangkan pada videocad Nvidia hal seperti ini tidak terjadi.
Perbandingannya dapat dilihat pada rekaman video disamping ini.
DOWNLOAD VIDEO PERBANDINGAN
KUALITAS IMAGE PADA SPLINTER CELL DOUBLE AGENT (1.6MB)
| TEST
6: |
The
Elder Scrolls IV: Oblivion |
Oblivion
hingga detik ini merupakan game dengan tampilan terbaik sekaligus game paling berat.
Bagian paling berat adalah pada kondisi outdoor di padang rumput dengan kondisi rumput
yang bergoyang.
Bethesda Softwork, developer Oblivion, tampaknya mendapat pesanan khusus dari
Nvidia agar game ini tidak bisa mengaktifkan Anti Aliasing bila HDR di-enable, sehingga
keunggulan videocard ATI dalam hal kemampuan mengaktifkan FSAA+HDR secara simultan akan
sia-sia. Sekalipun akhirnya ATI dapat memaksanya melalui driver, namun developer game ini
bersama Nvidia masih memiliki cara "sabotase" lain yang disiapkan bagi videocard
ATI, yaitu problem bila mengaktifkan fitur Shadow On Grass.
Pada videocard ATI, bayangan yang jatuh pada pada rumput akan berkedip-kedip (flickering),
sedangkan pada videocard Nvidia hal ini tak terjadi. Untuk mengetahui perbedaannya bisa
dilihat di rekaman video berikut.
DOWNLOAD VIDEO
PERBANDINGAN KUALITAS IMAGE PADA OBLIVION (2MB)
3D Mark 06 merupakan aplikasi benchmark
gaming yang paling populer di dunia. Tampaknya developer benchmark ini, Futuremark, juga
telah dirangkul olen Nvidia untuk membuat pengguna videocard ATI kecewa. Sekalipun
videcard ATI seri X1000 telah mensupport Shader Model 3 (SM3) namun sebenarnya ada fitur
yang tidak disupport, yaitu Shader Particles. Kelemahan ini diekspose pada 3D Mark 06,
yaitu dengan tidak bisa diaktifkannya Shader Particle Test. Sedangkan pada videcard
Nvidia, test tersebut dapat dilakukan.
| 3D
Mark 06 |

Pada gambar diatas terlihat bahwa
videocard Nvidia seri 79xx telah mendukung Shader Particles, sedangkan ATI seri X19xx
belum mendukung fitur tersebut. |
Kesimpulan : Keunggulan kualitas image
ditentukan oleh kelihaian strategi bisnis

Strategi untuk menang : Dengan melakukan konspirasi bersama para game developer, Nvidia
akhirnya sukses mengalahkan ATI dalam hal pertarungan kualitas gambar |
Anggapan mengenai kualitas gambar videocard
ATI lebih unggul daripada Nvidia pupus sudah. Dalam prakteknya, kualitas gambar pada image
videocard ATI terlihat lebih buruk dan bermasalah di banyak game.
Hal ini sebenarnya bukan karena ketidak becusan ATI membuat chip grafis, namun
karena kelihaian Nvidia dalam menggandeng game developer untuk mensabotase kualitas gambar
videocard ATI di banyak game.
Apakah sabotase yang dilakukan Nvidia
merupakan kecurangan?
Di mata konsumen, tindakan yang dilakukan oleh Nvidia bukanlah sebuah kecurangan.
Sebab konsumen tetap mendapat kualitas gambar terbaik bila menggunakan videocard Nvidia.
Nvidia juga sudah memperingatkan di awal game dengan adanya logo atau peringatan bahwa
tampilan terbaik hanya akan didapat bila menggunakan videocard Nvidia.
Jadi bila ada pengguna videocard ATI yang kecewa karena "rusaknya"
kualitas gambar, itu karena salah mereka sendiri kenapa tidak menggunakan videocard Nvidia
untuk bermain game tersebut.

Strategi CEO : Kongkalikong ala asia akhirnya mengalahkan asah otak ala barat |
Dalam persaingan kualitas gambar, Nvidia
terlihat jauh lebih cerdas & smart dibanding ATI. Di saat para insinyur ATI kerja
lembur & banting tulang di dalam lab yang sunyi untuk meningkatkan keunggulan kualitas
grafis, para team Nvidia mengajak makan malam para game developer untuk bersama-sama
menjatuhkan ATI.
Jamuan makan malam dan berbagai suguhan kenikmatan lainnya membuat para game
developer akhirnya rela melakukan apa saja untuk menjatuhkan ATI.
Konspirasi dengan game developer tampaknya merupakan strategi jitu yang dilakukan
sang CEO sekaligus pendiri Nvidia yaitu Jen-Hsun Huang.
Dengan konspirasi Nvidia bersama game
developer, maka sehebat apapun ATI berinovasi untuk meningkatkan kualitas grafis videocard
mereka, hasilnya tetap akan sia-sia saja karena game yang dirilis ternyata tidak
memanfaatkan keunggulan yang dimiliki videocard ATI, bahkan kualitas gambar pada videocard
ATI malah sengaja diturunkan dengan munculnya berbagai problem.
Dalam perang kualitas gambar, ATI
menggembar-gemborkan keunggulan Radeon seri X1xxx dibanding Geforce seri 7 dalam hal
kemampuan menjalankan FSAA+HDR secara berbarengan. Sekalipun penggunaan FSAA+HDR akan
menurunkan performa secara signifikan sehingga hanya layak diterapkan pada videocard 2
juta, namun Nvidia tentu mewaspadai keunggulan ATI dalam hal ini. Oleh karena itu beberapa
game sengaja dirancang (atas pesanan Nvidia) agar tidak bisa menjalankan FSAA+HDR secara
berbarengan sekalipun menggunakan ATI X1xxx (misal: Splinter Cell Chaos Theory). Tak hanya
itu saja, beberapa game ternyata juga mampu menjalankan FSAA+HDR sekalipun menggunakan
Geforce seri 7 (misal: Half Life 2, NFS Most Wanted). Di sini terlihat bahwa keunggulan
fitur hardware dapat dimentahkan oleh design programming game. Melalui design programming
game itulah Nvidia bersama pembuat game menurunkan (mensabotase) kualitas gambar pada
videocard ATI.
Disini terbukti bahwa kenggulan teknis mampu dikalahkan oleh strategi bisnis.
Pepatah lama di dunia balap jalanan
mengatakan: "Tidak perlu repot-repot merancang mobil paling cepat bila anda tahu
cara jitu untuk menggembosi ban mobil lawan"
Strategi marketing Nvidia vs. Keunggulan teknis
ATI
Para fans ATI biasanya masih berdalih bahwa
problem kualitas gambar hanya menimpa game-game tertentu yang disponsori Nvidia saja.
Namun dalam prakteknya ternyata Nvidia mensponsori hampir 90% game yang ada di pasaran.
Daftar game-game yang disponsori Nvidia dapat dilihat di situs ini: www.nzone.com/object/nzone_twimtbp_gameslist.html.
Bahkan nyaris semua game-game best seller ternyata menyandang logo Nvidia. Dengan
asumsi seperti itu, maka dapat dipastikan mayoritas game di pasaran akan memiliki tampilan
lebih bagus di videocard Nvidia, atau dengan kata lain bermasalah di videocard ATI.
Nvidia juga sangat tahu bahwa game-game
dengan karakter populer seperti Lara Croft (Tomb Raider) dan Sam Fisher (Splinter Cell)
sangat berpotensi untuk laku dan menjadi best seller. Dengan mensponsori game-game populer
seperti itu, maka secara otomatis juga akan mendongkrak penjualan videocard Nvidia. Sebab
game-game tersebut mensyarakatkan videocard Nvidia untuk tampilan terbaik.
Begitu pula dengan game Doom3 yang sangat populer hingga diangkat ke layar perak,
Nvidia mempropagandakan bahwa Doom3 akan jauh lebih baik bila dijalankan di videocard
Nvidia daripada di ATI. Oleh karena itu popularitas Doom3 secara tidak langsung juga akan
mengharumkan nama Nvidia.

Strategi marketing Nvidia adalah dengan
menarik konsumen untuk membeli videocard mereka dengan melalui judul-judul game populer
yang disponsori Nvidia, sedangkan ATI selama ini mengarahkan konsumen dengan cara
mengekspose keunggulan teknis videocard mereka.
Dalam prakteknya, tujuan konsumen membeli videocard adalah untuk bermain game, dan
mereka tentu akan membeli videocard terbaik untuk bermain game, dan bukannya videocard
yang unggul secara teknis semata. Konsumen gamer kebanyakan tidak terlalu peduli mengenai
perbedaan spek teknis yang nyaris sama, yang mereka tahu game yang mereka mainkan akan
terlihat lebih bagus di videocard mana.
Sabotase kualitas image yang dilakukan Nvidia bersama para game developer membuat
konsumen takut untuk membeli videcard ATI karena menurunnya kualitas gambar di game
favorit mereka, sehingga para gamer berbondong-bondong pindah ke kubu Nvidia.
Oleh karena itulah penjualan videocard ATI akhirnya terus melorot drastis hingga
ATI akhirnya kolaps di pertengahan tahun 2006 dan kemudian diakuisisi oleh AMD.
Kondisi persaingan diatas nyaris sama
seperti keunggulan telak Sony Playstation 2 atas XBox generasi pertama. Sekalipun XBox
saat itu membanggakan teknologi baru, tapi konsumen membeli Sony Playstation 2 dengan
alasan jumlah game yang lebih banyak, dan judul-judul game yang lebih baik.
Nvidia mencoba sedikit mengadaptasi strategi yang diterapakan Sony tersebut, yaitu
dengan mengandeng para game developer agar membuat tampilan game terlihat lebih baik hanya
di videocard Nvidia saja, sedangkan bila dijalankan dengan videocard ATI tampilan dibuat
menjadi lebih jelek.
Bagi para game developer, membuat game "kurang bersahabat" dengan
videcard ATI tidaklah terlau beresiko, karena jumlah pengguna videocard ATI jauh lebih
sedikit dibanding Nvidia.
Sebaliknya, bila ATI ingin meniru cara "sabotase" seperti yang dilakukan
Nvidia, maka hal tersebut akan lebih sulit dilakukan, sebab jumlah pengguna videocard
Nvidia jauh lebih banyak, sehingga game developer tentu tak mau beresiko bila penurunan
kualitas gambar di videocard Nvidia akan menyebabkan game mereka tidak dibeli oleh
mayoritas gamer yang menggunakan videocard Nvidia. Oleh karena itu pada game-game yang
disponsori ATI (misal Half Life 2) tampilannya tetap tidak ada masalah sekalipun
menggunakan videocard Nvidia.
Merger AMD+ATI bukan ancaman buat Nvidia?

Sang pendiri Nvidia : Pria sukses selalu dikelilingi wanita |
Banyak orang beranggapan bahwa ATI akan
bangkit lagi menuju kejayaan setelah diakuisisi oleh AMD. Hal ini sepertinya tidak
mungkin, sebab kekalahan ATI oleh Nvidia bukanlah karena masalah teknis, namun karena
kurangnya relasi dengan game developer serta kekalahan dalam hal strategi marketing.
AMD selaku produsen prosesor jelas tidak dapat membantu apa-apa dalam hal
meningkatkan relasi dengan game developer. Karena bagi produsen prosesor, industri game
bukanlah arena bermain mereka. AMD juga tidak seperti Intel yang piawai dalam hal strategi
marketing.
Secara finansial, Nvidia juga bahkan masih lebih kuat dibanding AMD. Laba bersih
gabungan antara AMD dan ATI sekalipun ternyata masih dibawah Nvidia.
Dengan kondisi finansial AMD yang kini kian terpuruk seiring kekalahan telak mereka
oleh Intel, pupus sudah harapan ATI untuk mendapat pasokan tenaga dari AMD.
Bisnis ATI di bidang solusi onboard grafis untuk PC desktop & notebook juga
kian dipersulit oleh Intel yang makin meningkatkan produksi chipset motherboard dengan
integrated graphic. Masuknya intel di sektor ini menjadi mimpi buruk bagi ATI, sebab ATI
sebelumnya cukup mengandalkan pemasukan dari sektor ini.
Berbeda dengan Nvidia yang tidak terlalu terganggu dengan langkah Intel tersebut,
karena konsentrasi Nvidia adalah pada bisnis videocard yang notabene tidak mampu disentuh
Intel.
|
Laporan
finansial perusahaan
periode awal 2006
Sumber : NASDAQ |
|
Laba
bersih |
Pertumbuhan
profit |
FAKTA FINANSIAL:
1. Laba bersih Nvidia 7X lipat ATI
2. Laba bersih Nvidia 2X lipat AMD
3. Laba bersih Nvidia naik 4X lipat sedangkan laba bersih ATI turun drastis
4. Pertumbuhan profit Nvidia nyaris 3X lipat AMD |
| Nvidia |
$302.6 juta |
+ 201.5% |
| AMD |
$165.5 juta |
+
81.5% |
| ATI |
$ 41.7 juta |
-
77.8% |
| Nvidia
masih terlalu kaya : Bahkan laba bersih gabungan AMD + ATI masih dibawah Nvidia |
Nvidia memiliki keunggulan bersaing yang
tak dimiliki perusahaan semikonduktor lainnya, yaitu hubungan mesra dengan game developer.
Oleh karena itu setelah AMD diakuisisi oleh AMD, sempat terbersit kabar bahwa Nvidia akan
diakuisisi Intel. Namun akhirnya Nvidia menolak untuk diakuisisi oleh Intel, karena bagi
Nvidia, Intel sekalipun tidak ada apa-apanya di dalam industri game dibanding mereka.
Budz Kay
budzkay@reviewland.com

ABOUT US
HOME
|
w e b d e s i g n
by |
|
 |
©2006
Budz Kay Webdesign, All rights reserved
please contact webmaster for any
web related problem |