reviewtip2.jpg (5487 bytes)

  Duel Kualitas Gambar Nvidia vs. ATI:
  Geforce 7xxx vs. Radeon X1xxx
  redball.gif (916 bytes)

  Artikel ditulis oleh: Budz Kay - 20 December 2006

Artikel ini dibuat berdasarkan analisa obyektif dan ilmiah, namun ditulis dengan gaya bahasa yang mengandung parodi, satir humor, dan kritik yang mungkin dapat menyinggung pihak tertentu.
Bila anda menginginkan artikel yang sama namun dengan gaya bahasa formal dan sopan silahkan lihat versi artikel yang ditulis oleh Budz Kay untuk media cetak (misal: tabloid Komputek, dsb)

  PAGE 2 of 2

< PREVIOUS PAGE

TEST 4: Splinter Cell Chaos Theory

Seri-seri Splinter Cell selalu menjadi game best seller yang kemunculannya dinanti-nantikan oleh para penggemar game. Semenjak seri perdananya, Splinter Cell terkenal sebagai game yang disponsori Nvidia. Sehingga berbagai masalah akan timbul bila menggunakan videocard ATI.
Pada Splinter Cell seri ke 3 (Chaos Theory), Nvidia bersama developer game ini sepakat untuk men-disable fitur Soft Shadow pada videocard ATI. Sehingga tampilan bayangan pada videeocard ATI akan buruk (jaggies).
Nvidia tahu bahwa atmosfir game ini bernuansa gelap dan sangat mengandalkan bayangan (shadow intensive), sehingga bila kualitas bayangan sengaja "dirusak" tentu akan merusak kualitas tampilan game secara signifikan pada videcard ATI.
Selain itu game yang mensupport fitur HDR ini juga tidak memiliki opsi untuk mengaktifkan Anti-Aliasing, sehingga keunggulan videocard ATI yang mampu mengaktifkan FSAA+HDR secara bersamaan tidak dapat difungsikan pada game ini.

Splinter Cell Chaos Theory


Bayangan Sam Fisher, tokoh utama Splinter Cell, terlihat halus pada videocard Nvidia. Sedangkan pada videcard ATI bayangan terlihat kasar dan bergerigi (jaggies). Ini akibat game ini dirancang untuk mendisable secara paksa fitur Soft Shadow bila digunakan pada videocard ATI.


Bayangan kabel listrik terlihat halus pada videocard Nvidia, sedangkan pada videocard ATI bayangan terlihat bergerigi


Bayangan jeruji besi terlihat halus pada videcard Nvidia, sedangkan pada videcard ATI bayangan terlihat kasar dan bergerigi.


Game ini sangat menonjolkan efek bias bayangan. Pada videocard Nvidia seluruh bayangan terlihat halus, berbeda dengan bayangan pada videocard ATI yang terlihat kasar dan bergerigi akibat tidak aktifnya Soft Shadow.

 

 

TEST 5: Splinter Cell Double Agent

Sekuel ke 4 dari serial game best seller Splinter Cell yaitu Double Agent baru saja dirilis. Tetap dengan tradisi lamanya, Splinter Cell adalah game yang pro Nvidia.
Nvidia tampaknya masih kurang puas dengan "mensabotase" fitur soft shadow ATI pada Splinter Cell Chaos Theory.
Berbeda dengan seri sebelumnya, pada Splinter Double Agent pengguna videocard ATI seri X1xxx dapat mengaktifkan FSAA+HDR berbarengan di game ini, maka untuk mengantisipasi hal ini Nvidia bersama game developer Splinter Cell bersepakat melakukan sabotase yang jauh lebih hebat lagi, yaitu dengan meniadakan bayangan pada karakter dan beberapa objek bila menggunakan videocard ATI. Fitur soft shadow juga tetap tidak berfungsi pada videocard ATI. Tidak hanya itu, implementasi bayangan pada beberapa objek juga mengalami masalah (hilang-timbul).
Nvidia tahu benar bahwa Splinter Cell merupakan game yang sangat menonjolkan atmosfir gelap yang sarat bayangan, sehingga bila bayangan pada videocard ATI "disabotase" pasti akan membuat pengguna videcard ATI kecewa berat dan memutuskan untuk beralih ke videocard Nvidia.

Pada game ini Nvidia juga ingin melampiaskan dendam lamanya terhadap videocard ATI seri X800 yang beberapa tahun yang lalu sempat membuat beberapa pengguna Geforce 6600 tergoda untuk beralih ke kubu ATI. Pada game ini Nvidia sengaja memesan game developernya agar game ini tidak mampu berjalan dengan ATI seri X300, X700, X800 karena ketiga videocard ATI tersebut belum mensupport Shader Model 3. Hal ini memang cukup aneh karena seharusnya engine game ini mampu dipaksa berjalan dengan shader model 1.1 seperti seri Splinter Cell sebelumnya, tapi tampaknya kemapuan tersebut dihilangkan karena pada game ini Nvidia ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang dulu berpindah dari Geforce 6600 ke ATI X800.

Splinter Cell Double Agent


Pada videocard Nvidia, karakter dan berbagai objek (tangga, gedung) memiliki bayangan. Sedangkan pada videocard ATI karakter maupun objek tidak memiliki bayangan


Sama seperti Splinter Cell edisi sebelumnya (Chaos Theory), fitur Soft Shadow pada Splinter Cell Double Agent juga tidak berfungsi pada videocard ATI sehingga bayangan kabel listrik diatas terlihat sangat bergerigi. Sedangkan pada videocard Nvidia bayangan kabel listrik terlihat halus.
Efek bayangan bergerigi pada videcard ATI terlihat jauh lebih parah di game ini dibanding di Splinter Cell Chaos Theory.


Tidak adanya bayangan karakter pada videocard ATI membuat nuansa kurang realisitis, berbeda dengan di videocard Nvidia dimana bayangan karakter ditampilkan dengan baik.


Pada videocard ATI bayangan objek yang jatuh pada pipa terlihat kasar (jaggies) dan seolah mengalami kesalahan, sedangkan pada videocard Nvidia bayangan mampu jatuh secara baik.

 

DOWNLOAD VIDEO (1.6MB)Problem pada videocard ATI tidak hanya pada hilangnya bayangan karakter dan beberapa objek serta tidak berfungsinya Soft Shadow, namun bayangan pada objek kadang juga sering hilang-timbul seiring pergerakan karakter. Sedangkan pada videocad Nvidia hal seperti ini tidak terjadi.
Perbandingannya dapat dilihat pada rekaman video disamping ini.

 

DOWNLOAD VIDEO PERBANDINGAN KUALITAS IMAGE PADA SPLINTER CELL DOUBLE AGENT (1.6MB)

 

 

 

 

 

 

 

 

TEST 6: The Elder Scrolls IV: Oblivion

DOWNLOAD VIDEO (2MB)Oblivion hingga detik ini merupakan game dengan tampilan terbaik sekaligus game paling berat. Bagian paling berat adalah pada kondisi outdoor di padang rumput dengan kondisi rumput yang bergoyang.
Bethesda Softwork, developer Oblivion, tampaknya mendapat pesanan khusus dari Nvidia agar game ini tidak bisa mengaktifkan Anti Aliasing bila HDR di-enable, sehingga keunggulan videocard ATI dalam hal kemampuan mengaktifkan FSAA+HDR secara simultan akan sia-sia. Sekalipun akhirnya ATI dapat memaksanya melalui driver, namun developer game ini bersama Nvidia masih memiliki cara "sabotase" lain yang disiapkan bagi videocard ATI, yaitu problem bila mengaktifkan fitur Shadow On Grass.
Pada videocard ATI, bayangan yang jatuh pada pada rumput akan berkedip-kedip (flickering), sedangkan pada videocard Nvidia hal ini tak terjadi. Untuk mengetahui perbedaannya bisa dilihat di rekaman video berikut.

DOWNLOAD VIDEO PERBANDINGAN KUALITAS IMAGE PADA OBLIVION (2MB)




 

 

 

 

 

TEST 7: 3D Mark 06

3D Mark 06 merupakan aplikasi benchmark gaming yang paling populer di dunia. Tampaknya developer benchmark ini, Futuremark, juga telah dirangkul olen Nvidia untuk membuat pengguna videocard ATI kecewa. Sekalipun videcard ATI seri X1000 telah mensupport Shader Model 3 (SM3) namun sebenarnya ada fitur yang tidak disupport, yaitu Shader Particles. Kelemahan ini diekspose pada 3D Mark 06, yaitu dengan tidak bisa diaktifkannya Shader Particle Test. Sedangkan pada videcard Nvidia, test tersebut dapat dilakukan.

3D Mark 06

Pada gambar diatas terlihat bahwa videocard Nvidia seri 79xx telah mendukung Shader Particles, sedangkan ATI seri X19xx belum mendukung fitur tersebut.

 

 

redball.gif (916 bytes)Kesimpulan : Keunggulan kualitas image ditentukan oleh kelihaian strategi bisnis


Strategi untuk menang : Dengan melakukan konspirasi bersama para game developer, Nvidia akhirnya sukses mengalahkan ATI dalam hal pertarungan kualitas gambar

Anggapan mengenai kualitas gambar videocard ATI lebih unggul daripada Nvidia pupus sudah. Dalam prakteknya, kualitas gambar pada image videocard ATI terlihat lebih buruk dan bermasalah di banyak game.
Hal ini sebenarnya bukan karena ketidak becusan ATI membuat chip grafis, namun karena kelihaian Nvidia dalam menggandeng game developer untuk mensabotase kualitas gambar videocard ATI di banyak game.

Apakah sabotase yang dilakukan Nvidia merupakan kecurangan?
Di mata konsumen, tindakan yang dilakukan oleh Nvidia bukanlah sebuah kecurangan. Sebab konsumen tetap mendapat kualitas gambar terbaik bila menggunakan videocard Nvidia. Nvidia juga sudah memperingatkan di awal game dengan adanya logo atau peringatan bahwa tampilan terbaik hanya akan didapat bila menggunakan videocard Nvidia.
Jadi bila ada pengguna videocard ATI yang kecewa karena "rusaknya" kualitas gambar, itu karena salah mereka sendiri kenapa tidak menggunakan videocard Nvidia untuk bermain game tersebut.


Strategi CEO : Kongkalikong ala asia akhirnya mengalahkan asah otak ala barat

Dalam persaingan kualitas gambar, Nvidia terlihat jauh lebih cerdas & smart dibanding ATI. Di saat para insinyur ATI kerja lembur & banting tulang di dalam lab yang sunyi untuk meningkatkan keunggulan kualitas grafis, para team Nvidia mengajak makan malam para game developer untuk bersama-sama menjatuhkan ATI.
Jamuan makan malam dan berbagai suguhan kenikmatan lainnya membuat para game developer akhirnya rela melakukan apa saja untuk menjatuhkan ATI.
Konspirasi dengan game developer tampaknya merupakan strategi jitu yang dilakukan sang CEO sekaligus pendiri Nvidia yaitu Jen-Hsun Huang.

Dengan konspirasi Nvidia bersama game developer, maka sehebat apapun ATI berinovasi untuk meningkatkan kualitas grafis videocard mereka, hasilnya tetap akan sia-sia saja karena game yang dirilis ternyata tidak memanfaatkan keunggulan yang dimiliki videocard ATI, bahkan kualitas gambar pada videocard ATI malah sengaja diturunkan dengan munculnya berbagai problem. 

Dalam perang kualitas gambar, ATI menggembar-gemborkan keunggulan Radeon seri X1xxx dibanding Geforce seri 7 dalam hal kemampuan menjalankan FSAA+HDR secara berbarengan. Sekalipun penggunaan FSAA+HDR akan menurunkan performa secara signifikan sehingga hanya layak diterapkan pada videocard 2 juta, namun Nvidia tentu mewaspadai keunggulan ATI dalam hal ini. Oleh karena itu beberapa game sengaja dirancang (atas pesanan Nvidia) agar tidak bisa menjalankan FSAA+HDR secara berbarengan sekalipun menggunakan ATI X1xxx (misal: Splinter Cell Chaos Theory). Tak hanya itu saja, beberapa game ternyata juga mampu menjalankan FSAA+HDR sekalipun menggunakan Geforce seri 7 (misal: Half Life 2, NFS Most Wanted). Di sini terlihat bahwa keunggulan fitur hardware dapat dimentahkan oleh design programming game. Melalui design programming game itulah Nvidia bersama pembuat game menurunkan (mensabotase) kualitas gambar pada videocard ATI.
Disini terbukti bahwa kenggulan teknis mampu dikalahkan oleh strategi bisnis.

Pepatah lama di dunia balap jalanan mengatakan: "Tidak perlu repot-repot merancang mobil paling cepat bila anda tahu cara jitu untuk menggembosi ban mobil lawan"

 

redball.gif (916 bytes)Strategi marketing Nvidia vs. Keunggulan teknis ATI

Para fans ATI biasanya masih berdalih bahwa problem kualitas gambar hanya menimpa game-game tertentu yang disponsori Nvidia saja. Namun dalam prakteknya ternyata Nvidia mensponsori hampir 90% game yang ada di pasaran. Daftar game-game yang disponsori Nvidia dapat dilihat di situs ini: www.nzone.com/object/nzone_twimtbp_gameslist.html.
Bahkan nyaris semua game-game best seller ternyata menyandang logo Nvidia. Dengan asumsi seperti itu, maka dapat dipastikan mayoritas game di pasaran akan memiliki tampilan lebih bagus di videocard Nvidia, atau dengan kata lain bermasalah di videocard ATI.

Nvidia juga sangat tahu bahwa game-game dengan karakter populer seperti Lara Croft (Tomb Raider) dan Sam Fisher (Splinter Cell) sangat berpotensi untuk laku dan menjadi best seller. Dengan mensponsori game-game populer seperti itu, maka secara otomatis juga akan mendongkrak penjualan videocard Nvidia. Sebab game-game tersebut mensyarakatkan videocard Nvidia untuk tampilan terbaik.
Begitu pula dengan game Doom3 yang sangat populer hingga diangkat ke layar perak, Nvidia mempropagandakan bahwa Doom3 akan jauh lebih baik bila dijalankan di videocard Nvidia daripada di ATI. Oleh karena itu popularitas Doom3 secara tidak langsung juga akan mengharumkan nama Nvidia.

Strategi marketing Nvidia adalah dengan menarik konsumen untuk membeli videocard mereka dengan melalui judul-judul game populer yang disponsori Nvidia, sedangkan ATI selama ini mengarahkan konsumen dengan cara mengekspose keunggulan teknis videocard mereka.
Dalam prakteknya, tujuan konsumen membeli videocard adalah untuk bermain game, dan mereka tentu akan membeli videocard terbaik untuk bermain game, dan bukannya videocard yang unggul secara teknis semata. Konsumen gamer kebanyakan tidak terlalu peduli mengenai perbedaan spek teknis yang nyaris sama, yang mereka tahu game yang mereka mainkan akan terlihat lebih bagus di videocard mana.
Sabotase kualitas image yang dilakukan Nvidia bersama para game developer membuat konsumen takut untuk membeli videcard ATI karena menurunnya kualitas gambar di game favorit mereka, sehingga para gamer berbondong-bondong pindah ke kubu Nvidia.
Oleh karena itulah penjualan videocard ATI akhirnya terus melorot drastis hingga ATI akhirnya kolaps di pertengahan tahun 2006 dan kemudian diakuisisi oleh AMD.

Kondisi persaingan diatas nyaris sama seperti keunggulan telak Sony Playstation 2 atas XBox generasi pertama. Sekalipun XBox saat itu membanggakan teknologi baru, tapi konsumen membeli Sony Playstation 2 dengan alasan jumlah game yang lebih banyak, dan judul-judul game yang lebih baik.
Nvidia mencoba sedikit mengadaptasi strategi yang diterapakan Sony tersebut, yaitu dengan mengandeng para game developer agar membuat tampilan game terlihat lebih baik hanya di videocard Nvidia saja, sedangkan bila dijalankan dengan videocard ATI tampilan dibuat menjadi lebih jelek.
Bagi para game developer, membuat game "kurang bersahabat" dengan videcard ATI tidaklah terlau beresiko, karena jumlah pengguna videocard ATI jauh lebih sedikit dibanding Nvidia.
Sebaliknya, bila ATI ingin meniru cara "sabotase" seperti yang dilakukan Nvidia, maka hal tersebut akan lebih sulit dilakukan, sebab jumlah pengguna videocard Nvidia jauh lebih banyak, sehingga game developer tentu tak mau beresiko bila penurunan kualitas gambar di videocard Nvidia akan menyebabkan game mereka tidak dibeli oleh mayoritas gamer yang menggunakan videocard Nvidia. Oleh karena itu pada game-game yang disponsori ATI (misal Half Life 2) tampilannya tetap tidak ada masalah sekalipun menggunakan videocard Nvidia.

 

redball.gif (916 bytes)Merger AMD+ATI bukan ancaman buat Nvidia?


Sang pendiri Nvidia : Pria sukses selalu dikelilingi wanita

Banyak orang beranggapan bahwa ATI akan bangkit lagi menuju kejayaan setelah diakuisisi oleh AMD. Hal ini sepertinya tidak mungkin, sebab kekalahan ATI oleh Nvidia bukanlah karena masalah teknis, namun karena kurangnya relasi dengan game developer serta kekalahan dalam hal strategi marketing.
AMD selaku produsen prosesor jelas tidak dapat membantu apa-apa dalam hal meningkatkan relasi dengan game developer. Karena bagi produsen prosesor, industri game bukanlah arena bermain mereka. AMD juga tidak seperti Intel yang piawai dalam hal strategi marketing.
Secara finansial, Nvidia juga bahkan masih lebih kuat dibanding AMD. Laba bersih gabungan antara AMD dan ATI sekalipun ternyata masih dibawah Nvidia.
Dengan kondisi finansial AMD yang kini kian terpuruk seiring kekalahan telak mereka oleh Intel, pupus sudah harapan ATI untuk mendapat pasokan tenaga dari AMD.
Bisnis ATI di bidang solusi onboard grafis untuk PC desktop & notebook juga kian dipersulit oleh Intel yang makin meningkatkan produksi chipset motherboard dengan integrated graphic. Masuknya intel di sektor ini menjadi mimpi buruk bagi ATI, sebab ATI sebelumnya cukup mengandalkan pemasukan dari sektor ini.
Berbeda dengan Nvidia yang tidak terlalu terganggu dengan langkah Intel tersebut, karena konsentrasi Nvidia adalah pada bisnis videocard yang notabene tidak mampu disentuh Intel.

Laporan finansial perusahaan
periode awal 2006
                               Sumber : NASDAQ
Laba bersih Pertumbuhan profit FAKTA FINANSIAL:
1. Laba bersih Nvidia 7X lipat ATI
2. Laba bersih Nvidia 2X lipat AMD
3. Laba bersih Nvidia naik 4X lipat sedangkan laba bersih ATI turun drastis
4. Pertumbuhan profit Nvidia nyaris 3X lipat AMD
Nvidia $302.6 juta + 201.5%
AMD $165.5 juta +    81.5%
ATI $  41.7 juta -     77.8%
Nvidia masih terlalu kaya : Bahkan laba bersih gabungan AMD + ATI masih dibawah Nvidia

Nvidia memiliki keunggulan bersaing yang tak dimiliki perusahaan semikonduktor lainnya, yaitu hubungan mesra dengan game developer. Oleh karena itu setelah AMD diakuisisi oleh AMD, sempat terbersit kabar bahwa Nvidia akan diakuisisi Intel. Namun akhirnya Nvidia menolak untuk diakuisisi oleh Intel, karena bagi Nvidia, Intel sekalipun tidak ada apa-apanya di dalam industri game dibanding mereka.

 

Budz Kay
budzkay@reviewland.com
 

Intel Seminar with Budz Kay

ABOUT US      HOME

 

w e b d e s i g n by

www.budzkay.net

2006 Budz Kay Webdesign, All rights reserved
please contact webmaster for any web related problem