Artikel ditulis oleh: Budz Kay - 11 September 2008
Artikel ini dibuat berdasarkan analisa obyektif dan ilmiah,
namun ditulis dengan gaya bahasa yang mengandung parodi, satir humor, dan kritik yang
mungkin dapat menyinggung pihak tertentu.Bila anda menginginkan artikel yang sama namun dengan gaya bahasa formal dan sopan silahkan lihat versi artikel yang ditulis oleh Budz Kay untuk media cetak (majalah / tabloid) PAGE 1 of 7 |
Seiring waktu, prosesor yang dirilis kian hari kian rendah suhu maupun konsumsi dayanya. Namun sayangnya cooler standar bawaan juga kian diperkecil ukurannya. Padahal kemampuan overclock prosesor masa kini juga makin tinggi dan cooler standard bawaan tersebut tentu tak memadai lagi untuk meredam panas pada kecepatan overclock yang tinggi. Cooler aftermarket merupakan jawaban itu
semua. Dengan harga berkisar Rp.300 ribuan anda telah dapat mengganti cooler standard
dengan cooler aftermarket yang tampilannya keren dan kinerjanya bagus.
Prosesor super-kencang dengan
harga super-murah tentu saja merupakan impian para pengguna PC, baik overclocker maupun
gamer. Impian para overclocker dan
gamer tersebut menjadi kenyataan pada prosesor kelas value (low-end) intel yaitu Pentium
Dual-Core E2160. Dengan harga berkisar Rp. 600 ribuan anda telah dapat memiliki Pentium Dual Core E2160. Sedangkan Core2 Duo termurah (seri E4600) harganya masih berkisar Rp. 1 juta. Harga yang murah menjadikan E2160 sebagai prosesor favorit sekaligus terlaris di dunia. Yang mengagumkan dari E2160
adalah kemampuan overclocknya yang luar biasa tinggi, yaitu dengan mudah mencapai 3.6GHz.
Ini berarti persentase kenaikan sebesar 100% alias 2X lipat. Sebuah prestasi yang tentu
diidam-idamkan oleh para overclocker. Pencinta prosesor AMD
seringkali mengatakan bahwa dengan harga sama mereka lebih baik memilih Athlon64 5000
(2.6Ghz) ketimbang Pentium Dual Core E2160 (1.8Ghz).
Overclocking Pentium E2160
tidak membutuhkan motherboard mahal. Bila hanya mengoverclock E2160 pada
kecepatan 3.2GHz ke bawah, anda tidak perlu mengganti cooler standard.
Dari waktu ke waktu konsumsi
daya (TDP) prosesor intel makin menurun, yang artinya merupakan sesuatu yang baik karena
artinya suhu prosesor buatan intel makin hari makin dingin. Meski cooler tipis tertsebut cukup memadai untuk meredam suhu prosesor yang berjalan standard, namun jelas tak memadai untuk menjinakkan suhu prosesor yang dioverclock. Apalagi persentase kenaikan overclock prosesor intel sangat tinggi (mencapai 100% alias 2X lipat), yang berarti persentase peningkatan suhunya juga menjadi terlalu tinggi untuk diredam oleh cooler standard yang tipis tersebut. Sepanjang sejarah prosesor
intel socket LGA775, cooler standard terbesar dimiliki oleh prosesor Pentium-D yang memang
terkenal paling panas. Namun semenjak kemunculan generasi prosesor Core2 yang hemat daya,
maka ukuran heatsink standard mulai "dikorupsi" hingga makin tipis.
Bagi intel, heatsink standard
yang tipis berarti penghematan biaya produksi, yang artinya intel dapat menjual prosesor
mereka lebih murah kepada konsumen. Mengoverclock dengan
mengandalkan cooler standard yang tipis seperti itu hanya akan membuat prosesor anda
meronta kesakitan karena terpanggang hidup-hidup !!!
Penggantian cooler standard intel dengan
cooler aftermarket merupakan syarat mutlak bagi orang-orang yang ingin mengoverclock
Pentium Dual Core ke angka 3.6GHz.
Dengan menggunakan cooler aftermarket
Rp.300 ribuan suhu idle Pentium Dual-Core yang dioverclock ke 3.6GHz bahkan mampu
diturunkan hingga hanya 1C saja diatas temperatur ruangan.
Bukti bobroknya kinerja cooler standard
intel tersebut menunjukkan bahwa membeli cooler aftermarket merupakan suatu keharusan bagi
orang yang ingin mengoverclock prosesornya secara optimal. Namun perlu diingat bahwa jangan sampai anda membuang/menjual cooler standard intel tersebut (sekalipun kinerjanya buruk), karena berlaku tidaknya garansi prosesor intel ditentukan oleh ada tidaknya cooler standard tersebut. Jadi jika anda membuang/menjual cooler
standard intel tersebut, maka otomatis garansi prosesor anda akan hilang. Karena sesuai
peraturan resmi intel, klaim garansi harus mengikutsertakan cooler standard bawaan
prosesor. Ingat ini baik-baik:
Sekalipun kinerja cooler standard intel hanyalah bahan ejekan & tertawaan belaka, namun cooler standard intel menggunakan mekanisme push-pin clip yang mempermudah pemasangan cooler tanpa harus membongkar motherboard dari dalam casing. Push-pin clip merupakan inovasi paling brilian yang pernah ditemukan oleh peradaban umat manusia, sekaligus merupakan mekaninsme pemasangan cooler termudah dalam sejarah industri prosesor. Hanya mekanisme push-pin inilah satu-satunya yang dapat dibanggakan dari sebuah cooler standard intel, dan untungnya ide brilian ini juga diimplementasikan pada beberapa cooler aftermarket.
Ke-4 cooler aftermarket yang diperbandingkan disini semuanya menggunakan mekasime push-pin ala cooler standard intel. Orang-orang yang memilih cooler aftermarket yang tidak menggunakan mekanisme push-pin adalah orang-orang yang ingin mempersulit dirinya sendiri. Di jaman yang serba sulit seperti sekarang ini, hanya orang-orang aneh saja yang malah mencari kesulitan. Oleh karena itu kita tidak mengikutsertakan cooler yang pas dengan krtiteria orang aneh tersebut. Scythe, Thermaltake, OCZ, dan Arctic Cooling adalah produsen yang menghargai pentingnya kemudahan bagi konsumen, sehingga mereka mengimplementasikan mekanisme push-pin pada cooler mereka yang diuji disini.
Ke-4 produsen pada tabel disamping ini
merupakan produsen yang cukup ternama di industri cooling. Dari perbandingan di samping terlihat bahwa
Vendetta paling banyak memiliki fitur unggulan. Semua cooler disini adalah cooler modern yang tentu saja menggunakan heatpipe, namun Thermaltake TMG i1 memiliki jumlah heatpipe paling banyak, sedangkan OCZ Vendetta menggunakan heatpipe berdiameter besar. Dari semua cooler disini hanya Vendetta
saja yang bisa diganti fannya alias menganut standard universal. Cukup banyak tipe fan
ukuran 9cm yang dapat digunakan untuk mengganti fan bawaan Vendetta.
Ke-4 cooler aftermarket yang diuji di sini
semuanya bertipe "Side Blow", yang artinya hawa panas dari cooler akan
disemburkan ke arah samping tepat ke arah lubang exhaust di bagian belakang casing. Bila PC anda menggunakan casing yang
tertutup, sudah dipastikan fan jenis "Side Blow" akan memberikan kinerja yang
lebih baik ketimbang fan tipe konvensional
Nyaris semua cooler aftermarket saat ini
menggunakan heatpipe untuk mempercepat transfer panas. Teknologi heatipipe pertama kali
diimplementasikan pada CPU cooler di tahun 2001. Saat itu CPU cooler pertama yang
menggunakan heatpipe adalah Cooler Master HHC-001 yang menjadi pemenang pada artikel lawas REVIEWLAND di tahun 2001.
Tampilan packaging alias box kemasan memang bukan merupakan
pertimbangan utama konsumen dalam membeli cooler CPU. Kemasan yang bagus sebenarnya lebih memberikan keuntungan bagi penjual, karena packaging yang menarik akan bersifat "eye-catching", dan jika dipajang di etalase toko dapat memancing perhatian orang-orang yang berlalu lalang di depan toko. Dalam hal kemasan, Scythe Katana II dan OCZ Vendetta lebih unggul dibanding Thermaltake TMG i1 dan Arctic Cooling Freezer 7 Pro.
Pada halaman selanjutnya akan anda lihat review lengkap ke-4 cooler aftermarket diatas...
|
©2008 Budz Kay
Webdesign, All rights reserved
please contact webmaster for any
web related problem