
Overclocking Pentium D930 dan Athlon64 X2
3800 dilakukan menggunakan heatsink & fan standard. (Ruangan ber-AC dengan suhu 25C) |
PENGUJIAN :
Pengujian dilakukan dengan 9 macam benchmark yang terbagi
dalam tujuh macam kategori:
1. Kategori Synthetic Benchmark:
Sisoft Sandra 2005 SR2 Pro
2. Kategori Aplikasi bisnis&multimedia:
PCMark 2005
3. Kategori Aplikasi 3D:
Cinebench 2003
4. Kategori Video editing/Encoding:
DivX 5.21
5. Kategori Game 3D:
FEAR
6. Kategori Aplikasi scientific:
Dual SuperPI 1.5 (parallel)
7. Kategori Price-Performance Index:
Cinebench 2003, FEAR
BENCHMARK PLATFORM:
CPU:
- Pentium D 805, 820, 840, 930
- Athlon 64 "Venice" 3000, 3200, 3500, 3800
- Athlon 64 X2 3800 "Manchester"
- Athlon 64 X2 4400 "Toledo"
- Celeron D 336
- Sempron 3100
CPU Cooler :
- Heatsink standard (ruangan ber-AC dengan suhu 25C)
Motherboard
- Pentium D : ASUS P5WD2-E Premium (i975X)
- Athlon64 X2 : ASUS A8N32-SLI Deluxe (NForce 4 SLI X16)
Memory :
- 2 X 512MB OCZ DDR2 800 (PC6400) --> for Intel
- 2 X 512MB OCZ DDR1 600 (PC4800) --> for AMD
Harddisk: 80GB Seagate Barracuda 7200.9 SATA2
Videocard PCI Express: Geforce 7800GT
Driver: Forceware 84.21
Windows XP Professional SP2
DirectX 9c Feb 2006
| KATEGORI
1: |
SYNTHETIC
BENCHMARK |
SISOFT SANDRA
2005 SR2 Professional - ARITHMETIC BENCHMARK
|
. .
Dhrystone (ALU ) |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$135 |
|
Athlon
64 X2 4400 (2x1MB L2)
$600 |
|
Pentium
D 840 EE (3.2GHz)
$800 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 840 (3.2GHz)
$450 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$130 |
|
Pentium
D 820 (2.8Ghz))
$275 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$125 |
|
Athlon
64 3800
$275 |
|
Athlon
64 3500
$125 |
|
| Pentium
4 631 (3.0Ghz)
$180 |
|
Athlon
64 3200
$105 |
|
Pengujian
performa ALU pada benchmark sintetis Sisoft Sandra 2005 Artithmetic memperlihatkan bahwa
dalam keadaan default Pentium D930 masih belum mampu mengalahkan Athlon64 X2 3800. Namun
dalam kondisi overclock, D930 terlihat mampu membalik keadaan.
Athlon 64 3800 yang merupakan prososer single-core AMD dengan harga lebih mahal
daripada prosesor dual-core intel, harus rela dipermalukan habis-habisan oleh Pentium
D930.
SISOFT SANDRA
2005 SR2 Professional - MULTIMEDIA BENCHMARK
|
. .
Floating Point |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$125 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$125 |
|
Pentium
D 840 (3.2GHz)
$250 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Pentium
D 830 (3GHz)
$190 |
|
Pentium
D 820 (2.8Ghz))
$190 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$125 |
|
| Pentium
4 631 (3.0Ghz)
$180 |
|
Athlon
64 3800
$275 |
|
Athlon
64 3500
$125 |
|
Athlon
64 3200
$105 |
|
Pengujian performa floating point pada
Sisoft Sandra 2005 Multimedia benchmark juga menunjukkan hasil yang sama. Dalam keadaan
default Athlon64 X2 3800 lebih unggul, namun dalam keadaan overclock prosesor dual-core
AMD ini harus mengakui keunggulan D930.
Benchmark ini juga menunjukkan bawha L2 cache sebesar 4MB pada D930 memberikan
penignkatkan perorma yang signifikan bila dibanding L2 cache yang cuma 2MB pada D830.
SISOFT SANDRA
2005 SR2 Professional - MEMORY BENCHMARK
|
. .
Integer |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Athlon
64 3800
$275 |
|
Athlon
64 3500
$215 |
|
Athlon
64 X2 4400 (2x1MB L2)
$600 |
|
Athlon
64 3200
$105 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$125 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$125 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.0GHz
(fsb150 x 20)
$125 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$125 |
|
Hyper-Transport
system bus pada platform Athlon64 X2 3800 memang mampu memberikan memory bandwith yang
mengungguli D930 pada kondisi default. Namun ketika D930 dioverclock, kombinasi DDR2 800
dan Quad-pumped system bus yang dimilikinya mampu membuat prosesor ini menggulingkan
Athlon64 X2 3800 dari tahtanya.
Berbeda dengan D930 yang
superior dalam hal memory bandwith, D805 terlihat kurang memuaskan, ini akibat FSB-nya
yang jauh dibawah D930, yaitu hanya FSB533 (default) dan FSB740 (overclock). Sedangkan
D930 menggunakan FSB800 (default) dan FSB1092 (overclock).
Hal lain yang patut
diperhatikan adalah memory bandwith Athlon64 single-core (Athlon64 3800) yang jauh lebih
tinggi dibanding Athlon64 dual-core (Athlon64 X2 3800). Tampaknya hal ini merupakan efek
samping negatif dari penggunaan memory controller yang terintegrasi.
| KATEGORI
2: |
APLIKASI
BISNIS & MULTIMEDIA |
BENCHMARK PCMARK
2005 - CPU
|
. .
. . 1024x768x32bit |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$200 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 840 (3.2GHz)
$300 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Pentium
D 830 (3.2GHz)
$190 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.0GHz
(fsb150 x 20)
$135 |
|
Athlon
64 X2 4800 (2x1MB L2)
$895 |
|
Pentium
4 631 3.0 @ 4.3Ghz
(fsb285 x 15)
$180 |
|
Pentium
D 820 (2.8Ghz))
$275 |
|
Athlon
64 X2 4400 (2x1MB L2)
$600 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$130 |
|
Athlon
64 X2 3800
$305 |
|
| Pentium
4 631 (3.0Ghz)
$180 |
|
Athlon
64 3800
$275 |
|
Athlon
64 3500
$125 |
|
Athlon
64 3200
$105 |
|
Pada
benchmark PCMark05 yang yang mensimulasikan kinerja aplikasi multimedia & multitasking
terlihat bahwa Pentium D930 ternyata sanggup mengalahkan Athlon64 X2 3800 dalam keadaan
default maupun overclock.
Athlon64 X2 3800 yang dioverclock ke 2.56GHz bahkan masih belum bisa mengalahkan D805 yang
dioverclock di 3.32GHz.
Hal ini bisa dimaklumi karena pengujian PCMark cenderung sarat dengan aplikasi multimedia
(video & audio encoding), dimana prosesor Intel cenderung lebih unggul di bidang
tersebut.
Pada benchmark ini juga terlihat bahwa perbedaan besar L2 cache antara
D830 (2MB) dan D930 (4MB) memiliki dampak yang cukup signifikan pada kinerja.
| KATEGORI
3: |
APLIKASI
DESIGN 3D |
CINEBENCH 2003
(CINEMA 4D XL 8)
|
. .
. . Raytracing (CB) |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$200 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 840 EE (3.2GHz)
dual core + HT
$800 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$135 |
|
Pentium
4 631 3.0 @ 5.1Ghz
(fsb285 x 15)
$180 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Pentium
D 840 (3.2GHz)
$450 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$130 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.0GHz
(fsb150 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 820 (2.8Ghz))
$275 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$135 |
|
Pentium
4 670 (3.8GHz)
$500 |
|
Pentium
4 660 (3.6GHz)
$410 |
|
Athlon
64 3800
$275 |
|
| Pentium
4 631 (3.0Ghz)
$180 |
|
Athlon
64 3200
$165 |
|
Athlon
64 3000
$125 |
|
Sempron
3100
$80 |
|
Celeron
D 336 (2.8Ghz)
$55 |
|
Pada
pengujian rendering Cinebench 2003, Athlon64 X2 3800 mampu menunjukkan superioritasnya.
Hal ini tentu bisa dimaklumi bila mengingat Pentium D930 adalah prosesor kelas menengah
seharga $210 sedangkan Athlon64 X2 3800 adalah proseor high-end seharga $305. Namun dalam
adu overclock, Pentium D930 yang lebih murah ini mampu mempermalukan Athlon64 X2 3800.
Cinebench 2003 merupakan benchmark yg
menggunakan engine yang sama dengan Software Cinema 4D XL 8 yg cukup populer di kalangan
animator 3D. Software ini mendukung multi-CPU maupun Hyperthreading.
Para
arsitek dan designer grafis 3D tentu akan sangat merasakan manfaat prosesor dual-core D930
yang lebih terjangkau ini bila ingin melakukan rendering dengan software-software seperti
3D Studio Max, Maxon4D, dsb
| KATEGORI
4: |
VIDEO
EDITING/ENCODING |
DivX 5.21
Encoding
|
. .
DVD "Saving Private Ryan"
durasi 12menit
. . Konversi
DVD (.vob) ke DIVX (.avi)
(menit:detik) |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$200 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$130 |
|
Pentium
4 631 3.0 @ 4.3Ghz
(fsb285 x 15)
$180 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Pentium
D 830 (3 Ghz))
$190 |
|
Athlon
64 3000 @ 2.5GHz
$125 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$135 |
|
Athlon
64 3800
$275 |
|
Pentium
4 631 (3.0Ghz)
$180 |
|
Athlon
64 3500
$125 |
|
Athlon
64 3200
$105 |
|
Athlon
64 3000
$95 |
|
Pada
pengujian DivX encoding, yaitu konversi movie dari format DVD (VOB) ke DivX, Pentium D930
hanya menang tipis dibanding Athlon64 X2 3800. Namun dengan menggunakan Pentium D930 para
praktisi video editing tentu dapat menghemat jutaan rupiah karena mendapat performa yang
setara dengan Athlon64 X2 3800 yang jauh lebih mahal. Penghematan sebesar $115 tentu dapat
digunakan untuk membeli video editing card yang lebih bagus lagi ataupun penambahan RAM.
Dalam menjalankan proses Divx encoding terlihat bahwa prosesor single-core sangat sulit
untuk melawan dual-core. Selain itu terlihat pula ada perbedaan kinerja yang signifikan
antara D830 (L2 cache 2MB) dengan D930 (L2 cache 4MB)
Ketika
D930 dan Athlon64 X2 3800 sama-sama dioverclock, D930 mampu unggul cukup jauh. Pada benchmark ini terlihat pula kinerja Athlon64
3000 Venice yang dioverclock di 2.5GHz. Perbandingan tambahan ini menunjukkan bahwa pada
aplikasi video encoding, prosesor single-core yang dioverclock habis-habisan sekalipun
masih belum mampu mengalahkan performa prosesor dual-core dalam keadaan deafult
F.E.A.R (menggunakan
VGA Geforce 7800GT)
|
1024x768 -
High |
Athlon64
X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$200 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$130 |
|
Memang harus diakui
bahwa Athlon64 X2 3800 mampu menunjukkan kehebatannya dalam game, seperti yang ditunjukkan
pada hasil benchmark game FEAR diatas.
Namun sebenarnya perbedaan performa yang mampu diberikan sebuah prosesor pada game
sangatlah kecil. Ini terlihat pada
perbedaan performa antara Athlon64 X2 3800 dengan D930 pada FEAR yang hanya berkisar 1-3 fps saja. Dalam pemakaian
sehari-hari, perbedaan sebesar ini jelas tidak akan terasa. Perbedaan performa game akan
lebih terasa bila terdapat perbedaan VGA card yang digunakan, bukan prosesor.
Perlu diingat bahwa VGA
card yang digunakan pada pengujian ini adalah Geforce7800GT yang notabene cukup powerful.
Namun ternyata dengan VGA card semacam ini perbedaan performa antar prosesor ternyata cuma
berkisar 3fps saja, jadi bila anda menggunakan VGA card yang lebih lambat dari Geforce
7800GT maka perbedaan performa antar prosesor nyaris tak ada.
Sekalipun Athlon64 X2
3800 mampu menang tipis atas D930,
namun para gamer jelas tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari kemenangan Athlon64 X2
3800, karena mereka harus menebus selisih harga sebesar $115 untuk sebuah prosesor AMD
yang hanya mampu memberikan peningkatan performa sebesar 3fps saja. Justru dengan
menggunakan D930 para gamer akan menghemat lebih banyak uang yang dapat dipakai membeli
VGA card yang lebih powerful. Dengan menggunakan VGA
yang lebih powerful, peningkatan framerate yang didapat akan berkisar 10fps lebih, bukan
cuma sekedar 3fps saja.
3DMARK 2005
(build 330) - CPU Test (menggunakan VGA Geforce 7800GT)
|
. .
CPU Test - Default |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10)
$305 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$305 |
|
Benchmark
paling populer yang menjadi kiblat para overclocker ini menunjukkan keperkasaan D930 dalam
kondisi default maupun overclock.
3DMark 2005 merupakan gaming benchmark yang telah mengoptimalkan dual-core.
| KATEGORI
6: |
APLIKASI
NON-DUAL CORE |
SUPER PI
1.5
|
. ..2 x 1 MILLION PI CALCULATION
parralel calculation
(menit:detik) |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10)
$315 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20)
$135 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$315 |
|
Pentium
4 631 3.0 @ 4.3Ghz
(fsb285 x 15)
$180 |
|
Pentium
D 805 (2.66GHz)
$135 |
|
Athlon
64 3000 @ 2.5GHz
$95 |
|
Athlon
64 3000
$95 |
|
Dalam kondisi default
maupun overclock, Pentium D930 terlihat lebih unggul dibanding Athlon64 X2 3800. Ketika 2
program SuperPI 1M dijalankan secara bersamaan, maka buruknya kinerja multitasking dari
sebuah prosesor single-core seperti Athlon64
3000 terlihat jelas. Athlon64 3000
yang dioverclock ke 2.5GHz sekalipun ternyata masih terlalu lambat untuk mengalahkan
prosesor dual-core yang berjalan di clock default saja.
| KATEGORI
9: |
PRICE-PERFORMANCE
INDEX |
3D RENDERING PERFORMANCE per UANG $1 YANG DIKELUARKAN
|
CINEBENCH 2003
CB score : harga prosesor
(point CB per $1 uang yang dikeluarkan) |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10)
$315 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$315 |
|
Dari sisi
price-performance (value) yang diperoleh seorang pengguna aplikasi rendering 3D, Pentium
D930 terbukti mampu memberikan kinerja lebih tinggi untuk setiap uang yang dikeluarkan.
Athlon64 X2 3800 yang dioverclock sekalipun ternyata masih belum mengalahkan
price-performance ratio D930 dalam keadaan default sekalipun. Ini akibat harga Athlon64 X2
3800 yang sangat mahal.
Bila ada istilah awam mengatakan
harga kurang sepadan dengan performa yang diperoleh mungkin istilah tersebut
agak tepat untuk harga Athlon64 X2 3800 yang saat ini masih saja mahal.
NOTE:
Cara menghitung rasio adalah dengan membagi score benchmark dengan harga prosesor
Cinebench2003 jadi
patokan untuk mengukur price performance index, karena aplikasi ini mensupport multi-core
dan netral (tidak pro Intel ataupun AMD). Bahkan mungkin Cinebench2003 cenderung pro-AMD
karena dalam referensi resminya terlihat bahwa Athlon FX60 yang merender dengan 2 core
mampu mengalahkan Pentium D 955 Extreme Edition yang seolah merender dengan 4 core.
GAMING PERFORMANCE per UANG $1 YANG DIKELUARKAN
|
F.E.A.R.
Framerate : harga prosesor
(frame per second per $1 uang yg dikeluarkan) |
Pentium
D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20)
$190 |
|
Pentium
D 930 (3.0GHz)
$190 |
|
Athlon64
X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10)
$315 |
|
Athlon
64 X2 3800 (2x512KB L2)
$315 |
|
Sekalipun kinerja
Athlon 64 X2 3800 lebih unggul dibanding D930 pada game FEAR, namun selisih performanya
terlalu kecil dibanding selisih harga sebesar $115 antara D930 dengan Athlon64 X2 3800. Oleh karena itu, dari sisi
price-performance ratio untuk kinerja gaming , D930 justru menang telak atas Athlon64 X2
3800. Karena pada dasarnya perbedaan performa antar prosesor di game tidaklah signifikan,
sehingga membeli prosesor Athlon64 X2 3800 yang lebih mahal itu justru menjadi sebuah
pemborosan bagi para gamer.
KESIMPULAN
KONDISI
DEFAULT
Sebagai prosesor kelas
menengah di kisaran harga $190, Pentium D930 terbilang cukup sukses memukul telak seluruh
jajaran prosesor single-core sekaligus memberikan performa yang cukup mengejutkan bagi
Athlon64 X2 3800 yang harganya jauh lebih mahal.
Sekalipun jauh lebih murah, Pentium D930 dalam kondisi default ternyata masih mampu
mengalahkan Athlon64 X2 3800 di beberapa benchmark. Memang bagaimanapun juga dalam kondisi
default Pentium D930 tetap harus mengakui superioritas Athlon64 X2 3800. Hal ini tentu
tidak mengherankan karena Pentium D930 adalah prosesor kelas menengah seharga $190
sedangkan Athlon64 X2 3800 adalah prosesor kelas atas seharga $305.
Oleh karena itu manfaat
yang dirasakan oleh pengguna Pentium D930 (yang tidak suka overclock) adalah performa yang
nyaris setara dengan Athlon64 X2 3800 namun dengan penghematan uang jutaan rupiah.
Ada banyak komponen lain di dalam sebuah PC yang tak kalah menarik untuk diupgrade (misal:
VGA, memory, optical drive, hardisk, dsb). Dengan penghematan yang dilakukan, pengguna
Pentium D930 akan memiliki budget extra untuk mengupgrade komponen hardware lainnya.
Penghematan sebesar $115 tersebut dapat dipakai untuk menambah RAM sebesar 1GB lagi,
membeli 2 hardisk untuk RAID, ataupun mengupgrade ke tipe VGA yang lebih kencang.
KONDISI
OVERCLOCK
Dalam kondisi default,
kekuatan D930 memang tidak banyak terlihat, oleh karena itu prosesor ini hanya mampu
menang atas Athlon64 X2 3800 di sebagian benchmark saja.
Namun ketika D930 dioverclock, potensi prosesor 65nm ini mulai terlihat, sehingga hampir
di semua benchmark mampu mengalahkan Athlon64 X2 3800 yang juga dioverclock.
Angka 4.1Ghz untuk D930 dan 2.56GHz untuk Athlon64 X2 3800 adalah kenaikan overclock yang
paling sering diperoleh pada kebanyakan prosesor yang beredar di pasaran (dengan
menggunakan HSF standard). Bagi yang beruntung menemukan prosesor emas maka
bukan mustahil memperoleh Pentium D930 yang mampu digenjot
ke 4.8GHz ataupun Athlon64 X2 3800 yang mampu dipecut ke 2.9GHz. Namun
peluang mendapat prosesor semacam itu boleh dibilang 1 diantara 1000, dan untuk mencapai
kecepatan ekstrim seperti itu selain diperlukan fantor keberuntungan juga diperlukan
pendingingan ekstrim pula seperti watercooling, dry ice, atau bahkan phase-change yang
biayanya tentu tidak murah.
Paling tidak, dengan sistem watercooling yang tidak terlalu mahal, hampir semua D930
rata-rata dapat dipecut hingga kisaran 4.5GHz tanpa kepanasan. (Hal ini akan dibahas di
artikel mendatang)
Terlepas siapa yang
tampil sebagai pemenang dalam duel overclocking D930 vs. Athlon64 X2 3800, namun yang
paling menarik dari D930 bagi para overclocker adalah harganya yang jauh lebih murah
daripada Athlon64 X2 3800. Dengan selisih
harga sekitar $115, maka pengguna D930 akan memiliki lebih banyak dana extra untuk
melakukan overclocking.
RENUNGAN MALAM : AMD TAK BECUS DALAM STRATEGI BISNIS?
Dipermalukannya Athlon64 X2 3800 seharga
$305 oleh Pentium D930 seharga $190 merupakan sebuah blunder bagi AMD yang menunjukkan
bahwa mereka telah melakukan kesalahan fatal dalam dalam hal strategi harga dan product
positioning.
AMD tampaknya terlalu bernafsu melawan
dominasi Intel dengan kerja keras & kegeniusan mereka, namun mereka melupakan prinsip
dasar strategi bisnis yaitu : Don't work hard, but work smart.
Arsitektur K8 Athlon64 (Direct-connect,
Hyper-Transport) harus diakui merupakan sebuah terobosan canggih & inovatif hasil
kerja keras otak para insinyur AMD. Namun implementasi integrated memory controller yang
dilakukan juga menunjukkan bahwa AMD sebenarnya kurang smart sehingga melupakan
pertimbangan cost per processor & flexibilitas platform. Inilah yg menyebabkan AMD
akhirnya sulit untuk memproduksi prosesor dual-core yang murah.

Akhir-akhir ini Intel terobsesi dengan
toko roti |
Sementara itu, Intel justru cenderung
memakai kepiawaian strategi marketingnya (smart) dibanding kejeniusan otak mereka.
Dalam merancang Pentium D, Intel bahkan tidak perlu bekerja keras memutar otak
seperti AMD untuk menciptakan arsitektur yang sama sekali baru. Intel cukup smart
dengan hanya mengandalkan arsitektur tua (netburst) warisan Pentium4 yang sudah terbukti
sukses di pasaran. Yang dilakukan intel hanyalah melakukan efisiensi proses produksi
dengan menggunakan proses manufacturing 65nm dan memberikan L2 cache dalam jumlah besar
sebagai daya tarik bagi konsumen, untungnya arsitektur Intel pada dasarnya mendapat
benefit yang cukup signifikan dari penambahan L2 cache yang lebih besar (sedangkan AMD
tidak).
Dengan berbekal efisiensi manufacturing, pricing, dan positioning yang tepat,
Intel dengan leluasa dapat memposisikan prosesor dual-core untuk kelas low-end /
mass-market, apalagi flexibilitas Pentium D memungkinkan prosesor ini untuk digunakan pada
platform low-end yang cenderung sudah kadaluwarsa (motherboard dengan slot AGP dan DDR1).
Dari sisi marketing, Intel jelas tak
tertandingi oleh AMD, karena strategi bisnis AMD sebenarnya tidak lebih hebat dari
strategi bisnis yang dimiliki oleh "Toko Roti Intel"
di bawah ini ....

AMD memposisikan teknologi
dual-core mereka untuk segmen high-end / niche market (ceruk market yang sempit).
Sedangkan Intel memposisikan teknologi dual-core ke berbagai segmen mulai low-end,
mid-end, hingga high-end.
Bahkan target market prosesor dual-core Intel cenderung lebih mengarah ke
mainstream / mass market (low & mid)
Intel ibarat toko roti yang menjajakan rotinya dengan harga terjangkau sehingga
dapat menarik kalangan kebanyakan.

Akibat harga Athlon64 X2 yang
terlalu mahal, volume penjualan prosesor dual-core AMD ini juga tidak besar.
Sedangkan Intel berhasil menjual lebih banyak prosesor dual-core Pentium D,
karena mereka memposisikan teknologi dual-core sebagai teknologi yang terjangkau oleh
siapa saja.
Intel menganut "prinsip roti", yaitu harus bisa
dikonsumsi siapa saja.

AMD terlalu terfokus dalam
melayani kebutuhan para techies dan enthusiast yang jumlahnya justru tidak banyak.
Sementara Intel lebih memfokuskan diri pada melayani konsumen umum / kebanyakan.
Menurut Intel, konsumen prosesor sebenarnya tak jauh berbeda dengan pelanggan toko
roti, mereka suka diberi
"lebih banyak roti" dan "roti yang lebih
besar" dengan harga yang sama. Oleh karena itu dengan harga setara prosesor
single-core, Intel berusaha memberikan lebih banyak core (dual-core), dan
juga memberi L2 cache yang lebih besar (4MB).

AMD terlalu berkutat dengan
inovasi pada arsitektur K8 dual-core dan berbagai terobosan teknologi untuk menjadi
performance leader.
Sementara itu, Intel justru mengutamakan flexibilitas terhadap konsumen dalam
memberikan teknologi dual-corenya. Tidak masalah bagi Intel untuk memberikan Pentium D
dengan FSB533 sekalipun (misal D805), ataupun mengkombinasikan PentiumD dengan chipset
lawas dan memory DDR1 lawas. Yang penting harga prosesor dual-core tersebut setara
prosesor single-core, dan pada intinya konsumen tetap mendapat lebih banyak core dengan
harga yang sama.
Sama seperti halnya bagi kebanyakan pelanggan toko roti, tidak masalah bila rasa
roti terasa agak sedikit hambar, yang penting beli 1 dapat 2 (umumnya pada jam 8 malam ke
atas, roti yang diobral justru kian laris diserbu pembeli).
AMD telah melakukan kesalahan besar karena menganggap bahwa hanya teknologi baru
yang akan diserbu pembeli. Sebab bila mengacu pada fakta yang terjadi pada toko roti,
pembeli terbanyak justru ketika roti mulai diobral karena menjelang kadaluarsa (jam 8
malam ke atas).
Fakta telah membuktikan bahwa penjualan akan mencapai puncaknya justru ketika
sebuah produk menuju kondisi "basi". Anomali market seperti ini tak pernah
terpikir oleh AMD yang terkesan hanya mengandalkan teknologi baru semata namun buta dalam
strategi marketing.
Sekalipun generasi prosesor terbaru Intel yaitu Core2 Duo (Conroe) sudah didepan
pintu, namun Intel masih dapat membuat Pentium D tetap menarik bagi konsumen dengan
strategi pricing yang tepat. Strategi "obral malam ala toko roti" selalu dapat
menjadi langkah jitu bagi intel untuk membangkitkan animo konsumen.
AMD hingga kini masih belum mampu mengikuti langkah yang dilakukan intel, karena
mereka mengganggap bisnis prosesor berbeda dengan bisnis roti. Akibatnya prosesor
dual-core mereka tetap saja mahal dan tidak selaku penjualan roti.

Di saat AMD mengerang akibat
buruknya penjualan prosesor dual-core mereka. Intel justru mereguk anggur
kemenangan seiring kesuksesan penjualan Pentium D.
Intel mampu menjadikan dual-core sebagai market trend, sedangkan AMD tak mampu
melakukannya.
AMD memiliki visi & ambisi
yang sama dengan anak TK?
AMD tampaknya harus lebih banyak belajar
dari Intel dalam melakukan strategi bisnis. Sebuah inovasi canggih arsitektur K8
(Athlon64) yang merupakan hasil kerja keras mereka ternyata mampu dikalahkan dalam sekejab
dengan strategi marketing, pricing dan positioning sebuah arsitektur tua yang dikemas
dengan baju baru oleh Intel.
AMD harus sadar bahwa kejeniusan semata
tidak dapat membuatnya menjadi penguasa pasar. Karena memang sejarah dunia membuktikan
bahwa tidak pernah ada orang genius yang bisa menjadi penguasa. Para penguasa dunia selama
ini adalah para ahli strategi dan politikus yang sama sekali bukan orang genius, namun
mereka mampu memanfaatkan beberapa orang genius untuk kepentingan mereka.
Jadi berhentilah berambisi untuk menjadi genius, karena itu adalah cita-cita anak
TK yang masih lugu. Bila anda merasa telah dewasa, maka berambisilah untuk menjadi orang
yang mampu memanfaatkan kegeniusan orang lain.
Anutlah prinsip Don't work hard, but work smart. Karena itu adalah prinsip
yang dianut oleh hampir semua CEO dan marketing expert pada perusahaan ternama dunia.
Banyak orang bermimpi untuk menjadi orang genius, padahal sesungguhnya orang genius
dilahirkan hanya untuk diexploitasi oleh para ahli strategi.
Bila AMD berusaha mengalahkan dominasi Intel dengan mengandalkan kegeniusan para
insinyur mereka, berarti mereka memiliki visi & misi yang tak jauh berbeda dengan yang
dimiliki anak TK.
KONSEP IKLAN INTEL : MEMENTINGKAN MANFAAT & KEPUASAN DI SISI LAIN
Dalam
iklan-iklan mereka di berbagai media akhir-akhir ini, Intel tampaknya tidak terlalu
mengekspos mengenai keunggulan teknologi prosesor dual-core mereka. Namun yang mereka
tekankan adalah manfaat sampingan yang didapat dengan menggunakan prosesor tersebut.
Bila anda melihat tokoh-tokoh yang ada pada iklan Intel bertema "Subur
Keramik" dan "Toko Roti Kecil", mereka adalah para pengusaha yang mendapat
manfaat sampingan dengan menggunakan prosesor dual-core Pentium D.
Satu hal yang pasti adalah, bila mereka menggunakan Athlon64 X2, para pengusaha
tersebut pasti akan lebih lama untuk mencapai BEP (balik modal) .

Tema yang terlupakan oleh Intel: Manfaat sampingan tidak
selalu harus bernuansa bisnis, tapi juga hiburan....
Budz Kay
budzkay@reviewland.com

ABOUT US
HOME |